Kemiren, Desa Adat Pusat Tradisi Banyuwangi

14 Jan 2014

Masih di Banyuwangi hari pertama,jika sebelumnya kami diajak berkeliling melihat potensi di Kalibaru, berikutnya kami menuju Kemiren, salah satu daerah unggulan milik Banyuwangi. Namun sebelum itu kami mampir sebentar ke Pendopo untuk menikmati angin segar yang dihasilkan pepohonan-pepohonan rindang di kawasan ini.

‘Bunker’ Guesthouse Pendopo Sabha Swagata Blambangan

Bunker Guesthouse Pendopo Sabha Swagata Blambangan tampak dari luar

Bunker Guesthouse Pendopo Sabha Swagata Blambangan tampak dari luar

Interior dalam bunker hasil kreasi masyarakat Banyuwangi

Interior dalam Bunker

Kabupaten paling timur pulau Jawa ini memang tidak setengah-setengah dalam mengangkat eco-wisatanya, bahkan demi konsep Eco-Green tersebut pemerintah merombak bangunan lama menjadi bangunan indah yang ramah lingkungan. Hal itu terlihat dari bangunan disekeliling pendhopo yang di sebut ‘bunker’ guesthouse Pendopo Sabha Swagata Blambangan.

Apa yang menjadikan guesthouse ini spesial? Menurut Ardian Fanani Ketua Paguyuban Jebeng Tholik Banyuwangi tentu saja bangunannya yang mengusung konsep Eco-Green telah menjadikan guesthouse ini unik, diantaranya:
1. Demi menghemat listrik, bangunan di design semaksimal mungkin memanfaatkan tata cahaya dari matahari.
2. Demi meminimalkan penggunaan AC di guesthouse ini dinding & ventilasinya di design dapat menghasilkan udara yang segar dengan menciptakan atap dan dinding yang sekaligus bisa difungsikan sebagai taman rerumputan serta bunga.
3. Demi mengangkat ekonomi kreatif rakyat, semua furniture yang dihadirkan di beli dari rakyat Banyuwangi, bahkan bahan dasar yang digunakanpun menggunakan kayu lokal Banyuwangi.

Lobi dalam Bunker

Lobi dalam Bunker

Memaksimalkan Sinar Matahari di Ruang Makan dalam Bunker

Memaksimalkan Sinar Matahari di Ruang Makan dalam Bunker

Namun dikawasan ini bukan pemandangan itu saja yang dihadirkan kepada kami, melainkan bagaimana bangunan-bangunan di sekitar pendhopo ini juga menggunakan konsep Eco-Green seperti pada rumah dinas Bupati, ruang-ruang staff pemerintah, masjid, taman-taman yang terawat baik, bahkan pendhopo itu sendiri. Berikutnya tepat menjelang pukul 15:00 wib ketika dirasa jam sudah cukup dan kini saatnya kami menuju Desa adat Using Kemiren.

Salah satu sudut halaman Pendhopo

Salah satu sudut halaman Pendhopo

Bangunan Persinggahan di area Pendhopo

Bangunan Persinggahan di area Pendhopo

Mempertahankan keaslian lingkungan Pendhopo

.

Desa Adat Using Kemiren

Jika di Lombok kita mengenal Desa Sade masyarakat suku Sasak, atau Dusun Tembi khas masyarakat Jogja di Yogyakarta, maka di Banyuwangi kita kenal Desa Adat Using Kemiren, desa ini merupakan sebuah desa unggulan potensi Banyuwangi lokasi tepatnya berada di kecamatan Glagah dan tidak jauh dari pendhopo yang hanya berjarak kurang lebih 30 menit, setibanya di desa ini kami langsung menuju sentra produksi Kopai Using (Kopai = penyebutan Kopi bahasa setempat). Di sini kami di sambut teman-teman Pathok kependekan dari Paguyuban Tholik Kemiren (Tholik = Cak/Abang), dari teman-teman Pathok ini pula kami melihat langsung proses pengolahan kopi yang benar, sekaligus mendapat ilmu baru bagaimana caranya mengolah kopi sehingga menghasilkan kopi yang bercita rasa tinggi (akan saya sampaikan cara pengolahan kopi di postingan terpisah).

Proses Pengolahan Biji Kopi

Proses Pengolahan Biji Kopi

Jaran Goyang produk olahan kopi dari Kemiren

Jaran Goyang produk olahan kopi dari Kemiren

Menjelang Maghrib kami menuju salah satu rumah warga desa adat Using untuk mengobrol sejenak tentang tradisi dan budaya masyarakat warga desa sekitar, selama kami berkeliling di desa ini, kami jumpai masih ada beberapa warga yang mempertahankan bangunan asli namun sayang tak jarang pula beberapa rumah ada yang mengalami renovasi menjadi bangunan rumah modern. Oleh karena itu pemerintah Banyuwangi berusaha keras mempertahankan budaya dan tradisi di desa ini, diantaranya: memberi subsidi sebesar 10 juta rupiah bagi warga yang merawat serta mempertahankan rumahnya dengan design asli khas Using dan bagi warga yang menggunakan cara atau tradisi adat untuk acara pernikahannya. Bukan hanya itu, tak hentinya pula bapak Setiawan Subekti putra kelahiran Using sekaligus pemilik Sanggar Genjah Arum mengajak warga sekitar untuk mempertahankan dan mencintai budaya setempat, bukan tanpa alasan beliau semangat mengingatkan warga untuk mempertahankan tradisi dan bangunan rumah tradisional di desa adat Using karena menurutnya “dengan mempertahankan rumah adat yang terbuat dari kayu berusia puluhan tahun maka setiap 10 tahun lagi nilainya akan bertambah, dan dengan membangun rumah dinding semen maka setiap 10 tahun lagi nilainya akan turun dan rubuh” untuk itu kesadaran masyarakat sekitar demi menjaga tradisi, adat, dan budayanya memang sangat diharapkan.

Sanggar Genjah Arum, pusat belajar memahami tradisi Using dan kopi.

Selain sentra produksi Kopi, adat, dan tradisi warga sekitar, di desa Kemiren ini pula terdapat sebuah sanggar milik bapak Setiawan Subekti yang di beri nama Sanggar Genjah Arum. Atas kecintaannya terhadap desanya, bapak Setiawan Subekti yang biasa di panggil pak Iwan ini kemudian mendirikan sanggar ini, sungguh istimewa bagi kami ketika mengunjungi tempat ini karena sejak turun dari Bus hingga menuju sanggar, kami di sambut pintu utama sanggar yang berdiri kokoh dan eksotis, pintu ini terbuat dari kayu namun memiliki design yang khas desa adat Using Kemiren, tak jauh dari pintu gerbang tersebut kami disuguhi alunan musik tradisional Using yang dimainkan ibu-ibu sepuh warga sekitar berusia 50 tahun ke atas dan yang lebih menakjubkan lagi bahwa suara-suara indah terebut berasal dari Lesung. Konon menurut Ardian tradisi mukul Lesung yang menghasilkan suara-suara indah itu merupakan tradisi untuk menghibur ketika orang-orang sedang panen.

Setelah melihat penampilan ibu-ibu sepuh yang mengagumkan ini berikutnya kami menyebar berkeliling sanggar, dan di tengah sanggar saya tertarik untuk menuju ke sebuah gubuk yang di jaga dua orang ibu-ibu sepuh, saya penasaran dengan aktivitas yang beliau kerjakan, setelah saya mendekatinya ternyata di meja telah tersedia aneka jajanan, yaitu gorengan dan serabi, sungguh nikmat rasanya apalagi saat saya bersama teman-teman berebutan mencobanya.

Pintu masuk Sanggar Genjah Arum

Pintu masuk Sanggar Genjah Arum

Alunan musik tradisional desa adat Using di Kemiren

Alunan musik tradisional desa adat Using di Kemiren

Salah satu sudut sanggar Genjah Arum

Salah satu sudut sanggar Genjah Arum

Tari Barong, tarian sakral desa adat Using Kemiren

Suguhan dan jamuan tidak berhenti sampai pada jajanan saja, karena tidak lama kemudian kami mendengar alunan musik rancak masuk dari pintu gerbang sanggar dan ternyata suara itu merupakan iring-iringan musik dari Tari Barong, sebuah kesenian tradisional desa adat Using. Yang mana tradisi Barongan ini merupakan tradisi yang wajib ada disetiap acara hajatan warga desa Adat Using (Nikahan,Sunatan, dll), Menurut obrolan kami dengan bapak Sucipto ketua kelompok tari, Barongan sudah berusia lebih dari 100 tahun dan kelompok ini merupakan kelompok Barong tertua di Banyuwangi. Kelompok ini bersifat turun temurun dan memiliki 3 (tiga) tingkatan dalam perekrutan anggotanya. Sekilas Tari Barong terlihat mirip dengan Reog Ponorogo atau Barongsai. Hanya saja di sini tari Barong bentuknya sedikit berbeda dan setiap detil bagiannya memiliki makna filosofis bagi warga desa setempat.

Topeng Barong

Topeng Barong

Tari Barong

Tari Barong

Bapak Sucipto, Ketua Kelompok Tari Barongan

Bapak Sucipto, Ketua Kelompok Tari Barong

Dari gubuk yang menyediakan aneka jajanan dan pertunjukan tari Barongan, berikutnya saya menuju meja bar milik pak Iwan, di sini obrolan ringan mengenai dunia kopi kami dapatkan secara lengkap dan akrab, memang benar-benar tepat pak Iwan disebut jagonya kopi, karena selain paham betul dunia kopi beliau juga ahli dalam meracik kopi. Sungguh spesial bisa bertukar pendapat dengan beliau, dari obrolan ringan itu pula kami jadi mengerti berbagai jenis kopi dan bedanya, mulai dari tipe Robusta, Arabika, Kopi Luwak, kandungan Acid, dan sebagainya. Selain itu kami juga mendapat ilmu bagaimana cara mengolahnya, bagaimana cara menyimpannya, dan bagaimana cara mengetahui jenis kopi.

Bapak Setiawan Subekti, Putra Using sekaligus pemilik Sanggar Genjah Arum

Selain berbagi ilmu tentang dunia kopi, pak Iwan juga membantu kami memahami bentuk-bentuk bangunan tradisional dari desa adat Using yang ada di dalam sanggarnya, yang mana setiap sudut bangunan yang terdiri dari bangunan asli Desa Adat Using tersebut memiliki makna filosofis disetiap bagiannya. Keseruan kami di dalam sanggar malam itu mencapai puncak dengan makan malam yang mana jamuan utamanya adalah kuliner khas Desa Adat Using, namun di antara menu yang lain ada 2 (dua) menu utama yang wajib disuguhkan saat acara-acara khusus (misal: jamuan kepada tamu istimewa) yaitu: Pecel Ayam dan Sayur Uya Asem, Sekilas Pecel Ayam ini adalah daging suwir ayam yang dibalut kelapa berbumbu, dan Uya Asem sejenis kuah yang isinya ayam dengan irisan kecombrang sebagai bumbu utamanya, mungkin sekilas mirip garang asem hanya saja ada rasa khas di sana, maaf sayang sekali saya tidak bisa menjelaskan banyak karena memang tidak tahu cara membuatnya, yang pasti rasanya segar dan enak, silahkan coba sendiri ya ketika ke Banyuwangi.

Lalu Bagaimana rute menuju Desa Adat Kemiren? terus terang saya juga kurang paham mengenai hal ini, berbeda dengan kegiatan-kegiatan travelling saya sebelumnya yang mengingat dengan detil rute ke setiap tujuan, karena saya di sini mendapat undangan dari pemerintah kabupaten Banyuwangi jadi semua sudah tersedia dari panitia. Hanya saja karena transportasi belum terkoneksi dengan baik atau masih dalam tahap pengembangan dan lokasi masih seputar area City tour maka saran saya apalagi bagi yang baru pertama kali berkunjung ke Banyuwangi untuk lebih aman sebaiknya menggunakan jasa sewa mobil include driver.

Menuju —–> Teluk Hijau


TAGS Kemiren Banyuwangi Kopi Kopai Sanggar Genjah Arum Tari Barong


-

Profil Saya

Follow Me


Komentar